Hahaha..
Pasti ada yang jawab ya, ada juga yang jawab tidak.
Komitmen untuk menjadi ‘full time mom” artinya kalau aku di rumah, baby sama aku full, tentu mempengaruhi jadwal hidupku.
Pagi-pagi bangun, bersiap-siap, berberes-beres, biar pas baby-nya bangun bisa langsung kutemani. Sekarang, jadwal baby sudah relatif lebih cocok dengan kami (papa-mamanya). Pagi-pagi sekitar jam 4, baby bangun untuk minum susu, jam setengah 7, bangun lagi untuk minum susu, nah, setelah jadwal minum susu yang terakhir ini, aku bisa langsung ke kamar mandi. Habis mandi, aku bisa ’sarapan kecil’ – minum kopi/teh dan makan kue kesukaanku, sambil baca majalah/buku..ugh..kenikmatan sebelum berstatus mama yang masih bisa kunikmati. Baby tidur sama papanya, sampai jam 10, hahaha (baby-ku tidur sampai siang begini sejak dia pindah dari box bayinya ke tempat tidur besar papa-mamanya).
Nah, waktu ini harus dimanfaatkan sebaik-baiknya, waktu ini juga yang kupakai untuk fitnes, berangkat ke gym dua kali seminggu (kalo lagi berangkat ke gym, butuh bantuan pembantu untuk memberi minum susu yang jam setengah 7 dan menemani baby sebentar). Rutinitas lain di pagi hari, baca alkitab, menyimpan cucian bersih (pembantu yang mencuci dan setrika), menyiapkan botol susu bersih, membuang sampah, meminta pembantu atau diri sendiri menyiapkan makan pagi sekaligus siang kami. Terakhir, menyiapkan air mandi untuk baby dan papanya.
Baby bangun, kadang perlu minum susu dulu (bila baby menunjukkan tanda-tanda lapaarrr, hahaha) lalu baby kumandikan. Of course habis mandi (bila belum minum sebelumnya), baby minta minum susu (lambung bayi biasanya cukup kuat menahan lapar 3-4 jam saja, hahaha) Kadang baby kembali tidur, kadang minta bermain, kadang baby minta “ikut kerja”, hahaha, sehabis baby mandi adalah waktuku untuk menyiapkan keperluan baby yang mau dibawa ke rumah mertua (baby stay sesiangan di rumah mertua), artinya minta “ikut kerja” adalah baby minta digendong, so karena aku perlu menyiapkan berbagai keperluan itu dengan tetap menggendong baby, aku sebut baby minta “ikut kerja”, hm…ini toh yang dialami oshin (serial TV populer jaman kuno, ingat khan?, oshin selalu gendong bayi sambil bekerja)
Begitulah, acara terakhir kami di rumah adalah makan pagi setengah siang, biasanya baby bersama papanya, kalau aku menyiapkan makan pagi sendiri. Setelah makanan siap, kami perlu bantuan pembantu menemani baby, atau baby tidur-tiduran di keretanya, kami taruh di ruang makan…hehehe, nemani papa-mamanya makan. Pembantu kuminta cepat-cepat bereskan kamar dan urusan RT lain yang belum selesai. Lalu kami berangkat, kadang diantar suami, lebih sering (karena suami janjian ketemu klien), super mama yang nyetir, hehehe.
Di rumah mertua, baby dijaga pembantu, ada juga ipar yang kerja dari rumah, so, aku cukup bisa berangkat kerja dengan tenang (hehehe, tetap nelepon satu dua kali dari tempat kerja ke rumah)
Aku kerja jam setengah 1 – setengah 9 malam. Sampai detik terakhir sebelum berangkat kerja, aku akan menemani baby. Sebelum berangkat, aku selalu pamit dan memastikan baby tahu mama akan berangkat kerja, dan mama akan merindukannya dan mama berharap dia akan nyaman seharian dan kami akan bertemu lagi di malam hari, mama pasti datang menjemput. Sebelum berangkat, aku berdoa dan memohon berkat untuknya.
Pulang rumah, baca catatan harian baby, aku minta pembantuku mencatat aktivitas baby, minum susu, eek, muntah, biar aku tahu gimana seharian baby, sambil nanya gimana hari ini, dak pernah nanya, apa baby rewel, karena dia dak rewel, baby sangat menyenangkan, setiap pulang, senang sekali mendengar cerita mereka yang di rumah, baby bermain, tertawa-tawa dan perkembangan yang terjadi, mereka merasa senang menemaninya dan memujinya anak yang pintar.
Menjemput baby di malam hari pertama-tama cukup membuatku kuatir, apalagi setiap hari, tapi sejauh ini baik keadaannya.
Di rumah, seringnya baby kembali bangun, minum susu. Biasanya di jam 10 malam (karena aku dak biasakan pembantuku melakukan hal ini) aku akan membantu baby belajar angkat kepala, noleh kiri-kanan, tengkurep, seru..pakai ngiler-ngiler, hakakakaka.
Jam 12 biasanya baby minum susu lagi, suamiku biasanya ngajak baby bermain, tertawa-tawa, ada satu doa harapan suami yang menurutku sangat menarik, biasanya suamiku memegang kepala bayi dan bilang, pinter-manis..pinter-manis, lalu memegang dadanya dan bilang, baik hati-lembut..baik hati-lembut.., memegang kakinya dan bilang, sehat-kuat..sehat-kuat, memegang tangannya dan bilang, suka menolong, lalu memegang seluruh tubuh dan bilang, cinta Tuhan.
Setelah itu baby akan tidur sampai jam 4 nanti dan kembali ke permulaan cerita..
Hari minggu, satu-satunya hari libur (hari sabtu aku kerja setengah hari), wah, kami seharian di rumah..asyik…santai bersama..keluar jam setengah 5 untuk kebaktian di gereja dekat rumah, baby selalu ikut beribadah, stt, dia sangat khusyuk, alias tidur sepanjang kebaktian, hakakaka.
Biasanya, kami keluar makan sama keluarga suami hari minggu malam, baby juga selalu ikut. Mau pergi ke pesta, mau ke rumah teman, mau ke rumah saudara, mau pergi ketemu orang, mau ngerayakan party teman, mau keluar makan malam karena dak masak, baby pasti ikut, selama tempatnya aman, tidak jauh, baby pasti ikut.
Kalau pergi ke tempat yang menurut penilaian kami dak aman, aku akan menitipkannya pada mertua, kalau mertua ada kepentingan, kami reschedule.
Kalau aku mau pergi sama teman, hehehe, aku memastikan suami ada di rumah, menemani baby.
So, kembali ke awal..being mother = loosing freedom?
Kupikir tidak juga, baby itu individu yang benar-benar punya pengertian dan bisa bernego sebagaimana individu dewasa.
Pagi ini, aku berangkat kerja pagi (banyak kondangan, 08-08-08), semalam, aku bilang “baby, besok mama berangkat kerja pagi, baby bangun pagi ya, mama mandikan” and she do it…she is so lovely:)
Some conclusions :
-
Aku belajar bahwa sekalipun menjadi mama, aku tetap seorang isteri, so, waktu untuk suami adalah sebuah kemewahan yang perlu terus diusahakan
-
Aku belajar bahwa suami adalah partner terbaik yang Tuhan berikan untuk membesarkan anak (bukan pembantu, bukan suster, bahkan bukan mama kita sendiri, atau mama mertua)
-
Aku belajar bahwa baby itu individu yang mampu diajak bernegosiasi:)
-
Being mother = loosing freedom? hahaha, tentu tidak, baby adalah individu dan bisa bernegosiasi dengan baik, jadi kita (mommies) pasti bisa mengatur jadwal yang pas dan dak kehilangan kebebasan…selamat menjadi ibu!
captured at kaka’s (my baby) 2 months old life